Saturday, March 13, 2010

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN

Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik,dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. 

Tampaknya terdapat kesepakatandi kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu . Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah :

1. Kecakapan dan keterampilan seorang anak.
Seorang anak yang cakap dan terampil akan lebih mudah dalam mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Contohnya: seorang anak yang pandai bergaul, akan lebih mudah dalam bersosialisasi dengan lingkungannya.
 
2. Harga diri.
Seorang anak yang dapat menghargai dirinya sendiri dengan baik tidak akan mengalami kesulitan dalam menghadapi
berbagai hal yang dihadapinya. 

3. Persepsi seseorang anak mengenai diri sendiri.
Pandangan seorang anak terhadap dirinya dapat mempengaruhi dalam perkembangan konatifnya. Seorang anak yang memandang dirinya buruk akan lebih sulit dalam mengembangkan potensi dalam dirinya.
Contoh: seorang anak yang kurang percaya diri akan merasa malu untuk menunjukkan kemampuannya.

4. Keinginan.
Anak yang memiliki keinginan dipastikan memiliki motivasi yang tinggi untuk meraih keinginannya.
 
Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah : 
1. Adanya orang terdekat yang dapat dipercaya.
Dengan adanya orang-orang yang mempunyai hubungan erat/dekat dan orang tersebut dapat memberikan kepercayaan
sehingga melalui orang-orang terdekatnya itu perkembangan konatif anak dapat meningkat karena adanya dorongan
dari orang-orang yang tersayang. Contohnya: sahabat, orang tua, kakak, dan adik.

2. Cara orang tua mendidik dan membina anak.
Orang tua yang mendidik anak dengan cara bertahap dalam menjelaskan sesuatu hal, dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, biasanya anak-anak mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan mereka akan mudah dalam mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Contohnya: orang tua mengajarkan tentang kepercayaan diri kepada seorang anak disertai dengan memberikan dorongan kepada anak.

3. Jenis dan sifat pergaulan.
Pergaulan seorang anak dalam lingkungannya akan berpengaruh terhadap motivasi yang dimunculkan dalam dirinya.

4. Kelompok bermain dimana seseorang anak bergabung.
Kelompok bermain yang diikuti oleh seorang anak berpengaruh dalam pengembangan potensi seorang anak.

Saturday, March 6, 2010

PENGUKURAN GANGGUAN PRILAKU

Berikut adalah langkah-langkah yang di tempuh seorang psikolog dalam mengukur gangguan perilaku yang di hadapi klien-klien yang mereka hadapi. Seorang psikolog tidak bisa memfonis seseorang mengalami gannguan perilaku hanya dengan melihat atau memeriaksa begitu saja, tapi harus dengan prses dan cara sebagai berikut :

1.    Wawancara Klinis yang Terstruktur dan Tak terstruktur
Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur, tak terstruktur, atau gabungan dari keduanya. Dalam wawancara secara terstruktur, pewancara dengan teliti mengikuti pertanyaan yang telah disiaplan dan jarang menyimpang dari rangkaian pertanyaan yang terstruktur. Kelebihan dari wawancara terstruktur adalah ahli klinis dapat mendapatkan sejumlah besar informasi dalam waktu yang singkat.

Berbeda dengan wawancara tak terstruktur, wawancara tak terstruktur tidak memakai beberapa pertanyaan khusus yang disiapkan dan memungkinkan pewawancara untuk mengarahkan klien. Kelebihan dari wawancara tak terstruktur adalah lebih terfokus pada masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Tapi, wawancara tak terstruktur memiliki dua kekurangan, yaitu ahli klinis lupa menanyakan pertanyaan yang penting, dan ahli klinis tidak bisa mendapatkan data yang sebanding dari wawancara pertama ke wawancara selanjutnya.
Dalam membuat diagnosis, ahli klinis harus sensitif tidak hanya pada apa yang dikatakan klien dan bagaimana klien berkata, tetapi bagaimana hubungan klien dengan ahli klinis dapat mempengaruhi isi dari wawancara sendiri. Pewawancara dapat meneliti diagnosis tanpa harus menjelaskan kenapa klien memiliki masalah yang sedang mereka alami. Klien mengulanginya pada pewawancara yang berbeda, dan ahli klinis harusnya sadar bahwa umur, jenis kelamin, suku, cara berpikir, dan bahkan cara berpakaian dapat mempengaruhi hasil dari wawancara secara klinis. Tetapi ahli klinis harus sadar bahwa banyak budaya yang berbeda.

2.    Tes Psikologi
Beberapa ahli klinis menggunakan tes psikologi. Mereka yang menggunakannya harus bersumpah, dimana hampir semua ahli klinis yang tidak menggunakannya harus percaya bahwa tes tersebut tidak memberikan kegunaan informasi psikodiagnostik. Tes psikologis ini adalah tes kepribadian. Tes kepribadian itu bisa bersifat projektif atau bisa juga bersifat objektif. Selain itu, bisa juga menggunakan tes inteligensi untuk mengukur gangguan kognitif dan untuk meneliti pendekatan individu dalam menyelesaikan masalah. Tes neuropsikologis dan psikologis digunakan juga dalam rumusan diagnosis yang dapat digunakan dalam pengobatan dasar.

3.    Pengukuran Berdasarkan Aspek Biologis 
Pengukuran fungsi otak terdiri atas pengukuran fungsi refleks dan fungsi sensori. Misalkan dengan melakukan knee-jerk reflex (refleks lutut).
Pengukuran berdasarkan biologis mengindikasikan bahwa denyut jantung, tensi, aliran darah ke berbagai bagian tubuh, galvanic skin response (GSR), secara potensial menimbulkan serangkaian rekaman electroencephalograph yang meminimalisir interferensi secara elektrik, CAT (computerized axial tomography) dan PET (positron emission tomography) penelitian, dan pengukuran lain untuk menilai fungsi biologis. Petunjuk ini tidak secara umum digunakan dalam penilaian klinis. Ahli klinis telah menemukan bahwa PET meneliti orang dalam gangguan bipolar yang menunjukkan level yang lebih tinggi dalam metabolisme glukosa dalam cerebrum selama fase manic (ketika pasien hiperaktif, ekspansif, dan tak tahu malu) daripada selama fase depresif (ketika psien relatif tidak aktif dan merasa rendah).

4.    Observasi
Observasi adalah suatu aktivitas mengamati tingkah laku individu. Biasanya diakhiri dengan mencatat hal-hal yang dianggap penting sebagai penunjang informasi mengenai individu. Informasi yang diperoleh melalui observasi adalah informasi situasi sekarang.

Dalam mencatat data dapat menggunakan peralatan mekanik atau elektronik, seperti misalnya audiotape/videotape. Observer mencatat apakah tingkah laku pasien mental tampak aneh, kaku, rawan, atau apakah cara bicaranya lambat dan sebagainya. Observasi hampir seluruhnya tergabtung pada persepsi dan penilaian manusia, sehingga membuka kemungkinan untuk menjadi bias dan tidak tepat.

Saturday, February 27, 2010

PSIKOTERAPI



    Psikoterapi adalah sebuah intervensi yang diberikan oleh seorang profesional dengan menggunakan prinsip-prinsip psikologi yang mencoba untuk mengobati gangguan mental dan untuk meningkatkan kehidupan seseorang yang bahagia atau terganggu. Dalam psikoterapi terdiri atas beberapa metode yang digunakan untuk mengobati perilaku abnormal. Sebagian metode tersebut difokuskan untuk membantu individu dalam mendapatkan suatu pemahamannya tentang penyebab masalah.
    Psikoterapi kurang begitu populer di Indonesia karena tidak semua orang mengerti akan pentingnya psikoterapi. Hanya orang yang berasal dari ekonomi menengah ke atas saja yang menggunakannya.
    Psikoterapi dapat diberikan oleh dokter psikiatrik atau psikiater, yabg memiliki gelar M.D (di Amerika). Istilah ahli psikoanalisis ditujukan untuk individu yang telah mendapatkan latihan khusus di institut psikoanalitik dengan mempelajari metode dan teori Freud. Ahli Psikologi yang bekerja sebagai ahli psikoterapi biasanya mendapatkan gelar Ph.D. (doctor of Philosophy) atau Psy.D. (doctor of Psychology). Pekerja sosial psikiatrik harus menyelesaikan pendidikan 2 tahun untuk mendapatkan gelar master (M.S.W).

Sejarah Singkat Psikoterapi

Pada zaman dahulu kala, dipercaya bahwa perilaku abnormal disebabkan oleh setan. Setan tersebut diusir dengan teknik tertentu seperti doa, mantera, sihir, dan teknik lainnya. Jika terapi tersebut tidak berhasil, diambil tindakan yang lebih ekstrim. Misalnya denagn merajam hingga mati.
    Selama abad 15 sampai 16, gangguan mental itu dipandang sebagai penyakit. Maka penderita gangguan mental dimasukkan ke dalam rumah sakit khusus untuk penderita gangguan mental yang disebut asilum. Asilum seperti penjara untuk para penghuninya, mereka dirantai di sel yang gelap dan kotor. Tetapi pada saat Philipe Pinel (1745-1826) yang bertugas, terjadi perkembangan. Pinel memperbolehkan melepas rantai yang mengikat para penderita. Eksperimennya berhasil. Setelah dilepaskan dari ikatannya, ditempatkan di ruang yang bersih dan terang, banyak orang yang selama bertahun-tahun dianggap tidak berharapan sembuh ternyata mengalami kemajuan yang besar.   
     Akhir abad 18 dan awal abad 19, ahli kllinis berusaha untuk merawat gangguan mental berdasarkan psikologi. Contohnya, Josef Breuer (1842-1925), seorang dokter dari Viennese yang merawat pasien yang histeria dengan menggunakan metode hipnotis.