Monday, November 9, 2009

makalah self kontrol

BAB I
PENDAHULUAN

Tiap orang memerlukan kebebasan untuk menjadi kreatif dan mengaktualisasi diri. Di sisi lain, kendali dari dalam diri diperlukan sebagai regulasi atas dorongan dan kemampuan yangdimiliki, baik secara fisik, psikis, maupun perilaku.
Bertindak tanpa pikir panjang merupakan ciri khas yang melekat pada anak-anak. Mereka bertindak spontan. Bila sakit mereka akan menangis di mana saja, kapan saja, dan dalam situasi apa saja. Bila gembira, anak yang sehat akan berlarian, mencoret-coret, berteriak-teriak girang, atau melakukan apa pun yang ia inginkan.
Bayangkan bila perilaku semacam ini dilakukan oleh remaja atau orang dewasa. Tentu saja cukup aneh. Kita akan merasa sangat terganggu bila menemukan seseorang yang bukan lagi anak-anak bertindak sesuka hati, membiarkan dorongan-dorongan atau keinginan yang bersifat egoistis termanifestasi begitu saja.
Semakin bertambah usia seseorang, ia diharapkan semakin memiliki kendali atas perilakunya sendiri. Dengan kata lain, semakin mengembangkan kemampuannya mengontrol diri.
Walter miscell adalah seorang psikolog kepribadian. Ia lahir pada tahun 193 di Vienna, Austria. Ia pergi meninnggalkan Vienna dengan keluarganya ke U.S. setelah nazi mengambil alih ada tahun 1938. setelah beberapa perjalanan, ia tumbuh dan berkembang di Brooklyn N.Y. dan menjadi psikolog spesialis kepribadian dan psikolog sosial. Ia belajar di bawah bimbingan George Kelly dan Julian Rotter, dan menerima gelar P.Hd-nya di bidang psikologi klinis dari Universitars Ohio tahun 1956. Ia menjadi Profesor di Universitas Colombia sejak 1973. Sebelumnya ia telah menjadi profesor di Stanfti ord University.
Miscell terkenal dengan penelitian jangka panjangnya tentang ” the marshmallow test ” yang menunjukkan pentingnya kontrol rangsangan, emosional dan kesuksesan sosial. Tahun 1960-an preschool di kampus Stanford University, Miscell meletakkan marshmallow di bagian depan sebuah ruangan (kelas) anak usia empat tahun. Dia mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan mendapat satu marshmallow sekarang, tapi jika mereka dapat menunggu beberapa menit, mereka akan mendapatkan dua marshmallow. Beberapa anak antusias merampas sebuah marshmallow dan memakannya. Yang lainnya menuggu, beberapa menutup mata mereka karena diperintah untuk tidak melihat sesuatu yang menggoda, dan satu anak menjilat mengelilingi meja marsmallow. Miscell mengikuti kelompok tersebut dan menemukan bahwa 14 tahun kemudian kelompok tersebut memiliki harga diri rendah dan dilihat oleh orang lain seperti orang yang keras kepala, iri hati, dan mudah frustasi. Para penunggu bersikap lebih baik, cakap dalam bersosial, dan percaya diri, jujur, dapat diandalkan, dan lebih sukses dalam akademik. Kelompok ini memiliki skor sekitar 210 poin lebih tinggi pada SAT mereka. Diantara psikolog, ia mungkin yang paling terkenal untuk bidangnya yang mendeklarasikan bahwa kepribadian terlalu bervariasi melalui situasi yang ditunjukkan sebagai kandungan dari sifat yang berkelanjutan secara situasional dan kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor situasional daripada secara tradisional yang telah diapresiasikan. Pandangan ini populer dengan nama situasionisme, meskipun buku utama pertama Miscell, Personality and Assessment (1968) pada kenyataannya tidak pernah menggunakan kata situasionisme dan dalam penulisan berikutnya Miscell memunculkan treat pada masa ini sebagai pejorative. Akhir-akhir ini, dia mengklarifikasi bahwa ia mempercayai bahwa traits yang tersisa masih stabil sepanjang waktu.
Tahun 1968, Miscell mempublikasikan sebuah ppaper yang berargumen bahwa perilaku seseorang sangat bervariasi melalui situasi dimana hal itu tidak membuat sensasi mengenai kepribbadian dan stabilitas kepribadian dalam teori trait yang tidak terbatas, seperti five factor model. Ia berbicara bahwa seorang observer tidak dapat memprediiksikan apa yang dipikirkan individu, yang dirasakan dan sedang dilakuakn berdasarkan pengukuran trait sebelumnya. Seperti contoh, seorang yang mungkin diam dan menyendiri dalam situasi kerja, tapi mmenjadi konversasional dan ramah dalam sebuah pertemuan dengan temannya.







BAB II
ISI

Pengertian Self Control/Kontrol Diri
Kendali/kontrol diri (self-control) adalah pengaruh atau atau regulasi seseorang terhadap fisik, perilaku, dan proses-proses psikologisnya (Calhoun & Acocella, 1990).
Selain itu pengertian self control yang dikemukakan oleh J.P Chaplin yaitu, kemampuan untuk membimbing tingkah laku sendiri; kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-impuls atau tingkah laku impulsive (mencirikan kegiatan untuk terlibat dalam suatu kegiatan tanpa refleksi/ tanpa berpikir secukupnya atau yang tidak dapat ditahan-tahan, tidak dapat ditekan).

Peran Self Control
Self control/ kontrol diri merupakan hal yang sangat penting dalam hidup seseorang. Mengapa?
1. kontrol diri berperan dalam hubungan seseorang dengan orang lain. Hal ini tidak lepas dari kenyataan bahwa kita tidak hidup sendirian, melainkan di dalam kelompok, di dalam masyarakat. Padahal, kita memiliki kebutuhan pribadi seperti makanan, minuman, kehangatan, dan sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut kita perlu mengendalikan diri sedemikian rupa, supaya tidak mengganggu orang lain.
2. kontrol diri berperan dalam pencapaian tujuan pribadi. Setiap orang, dari budaya mana pun, selalu berharap mencapai tujuan tertentu dalam hidupnya. Contohnya, tujuan untuk memiliki kompetensi tertentu, mencapai kematangan pribadi, dan sebagainya, sesuai dengan standar yang ada dalam masyarakat.
Dalam rangka mencapai tujuan tersebut kita perlu belajar dan berusaha terus-menerus, dan mengendalikan diri dengan menunda pemuasan kebutuhan-kebutuhan sesaat demi mencapai tujuan jangka panjang.
Dengan mengembangkan kemampuan mengendalikan diri sebaik-baiknya, kita akan menjadi pribadi yang efektif, sehingga dapat secara konsisten merasa bahagia, bebas dari rasa bersalah, hidup lebih konstruktif, dapat menerima diri sendiri, dan juga diterima oleh masyarakat.

Kontrol Internal dan Eksternal
Semakin bertambah usia, seseorang diharapkan untuk semakin mengembangkan kemampuan mengendalikan perilakunya. Dari mana sumber kontrol perilaku seseorang? Sumbernya dapat dibedakan menjadi dua: faktor di dalam dan di luar diri seseorang.
Kontrol perilaku yang bersumber dari dalam diri biasanya disebut sebagai kontrol internal, dan yang bersumber dari luar diri disebut kontrol eksternal. Dalam kontrol diri (internal), individu mengatur perilaku dan standar kinerjanya sendiri; memberi ganjaran bagi dirinya sendiri bila berhasil mencapai tujuan; dan menghukum dirinya sendiri bila tidak berhasil mencapai tujuan.
Di sisi lain, dalam kontrol eksternal, individu menempatkan orang lain sebagai penentu (yang menjadi penyebab) perilaku, standar kinerja, dan ganjaran-ganjaran yang diperolehnya.
Dari dua jenis kontrol perilaku tersebut, kontrol pribadi (internal) dinilai lebih berharga. Sepanjang kita menggantungkan diri pada kontrol eksternal, kehidupan kita sebagian besar ditentukan oleh orang lain. Sebaliknya, dengan mengembangkan kontrol diri (internal) berarti kita mengendalikan dua hal: diri sendiri dan dunia sekitar kita.

Problem Pengendalian Diri
Seperti telah dijelaskan di atas, kontrol diri yang berkembang dengan baik akan memberikan banyak keuntungan bagi seseorang. Namun, dalam kenyataan, tidak semua kita mampu melakukan pengendalian diri secara konsisten.
Kemampuan pengendalian diri kita bervariasi. Ada orang yang sering terlalu banyak minum (hingga mabuk), yang lain terlalu banyak makan, yang lain lagi mudah kehilangan kontrol emosi, cenderung menunda pekerjaan, dan sebagainya. Bagaimana hal ini dapat terjadi?
Seperti halnya kontrol diri yang kuat, kontrol diri yang lemah juga berkembang melalui proses belajar. Contohnya, seorang remaja yang tetap impulsif, yakni selalu marah bila keinginannya tak terpenuhi, kemungkinan menjadi demikian karena sejak kecil orangtuanya selalu menuruti segala permintaan (berfungsi sebagai ganjaran) setiap kali anaknya itu merengek meminta sesuatu, terlebih-lebih bila anaknya mulai marah.
Ketika pola ganjaran semacam ini terjadi berulang-ulang, berarti si anak mengalami proses pembelajaran bahwa permintaannya pasti terpenuhi bila disertai marah. Selanjutnya ia mengembangkan pola perilaku marah setiap kali permintaannya belum terpenuhi.
Seseorang yang memiliki kebiasaan menunda pekerjaan, mungkin menjadi demikian karena sejak kecil terbiasa bekerja dalam tekanan orangtua (berfungsi sebagai hukuman). Dalam situasi demikian ia termotivasi melakukan tugas hanya untuk menghindari hukuman. Akibatnya, dalam situasi tanpa adanya tekanan, ia cenderung bermalas-malasan.

Penelitian Mendalam Terhadap Teknik Kontrol Diri dari Skinner
Di dalam buku Science and Human Behavior, B.F.Skinner mengadakan penelitian survey mengenai sembilan kategori metode kontrol diri, yaitu sebagai berikut:
 Pengendalian dan Pertolongan Diri (Physical Restraint and Physical Aid)
Manipulasi lingkungan untuk menciptakan beberapa respon lebih mudah untuk dilakukan secara fisik, dan yang lainnnya lebih sukar untuk dilakukan pada prinsip ini. Contohnya adalah seseorang yang menepuk tangannya ke mulut atau menyembunyikan tangan ke dalam saku untuk mencegah kecemasannya, dll. Hal tersebut menunjukkan metode fisik yang dilakukan untuk menutupi perilakunya.

 Merubah stimulus (Changing the stimulus)
Memanipulasi kesempatan untuk berperilaku dapat diubah dengan baik. Contohnya adalah seseorang yang melepaskan distraksi (kondisi mengalihkan perhatian seseorang dengan satu perangsang yang tidak berhubungan atau yang asing) yang menyebabkan tindakan yang tidak menyenangkan.

 Deprivasi dan Satiasi (Deprivating and Satiating)
Individu dapat memanipulasi perilakunya dengan cara mengafeksikan keadaan dari deprivasi atau satiasinya. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari adalah seseorang yang memakan snack sehat agar di waktu yang akan datang ia tidak memakan ‘junk food’. Hal tersebut dilakukan agar godaan untuk memakan ‘junk food’ dapat dikurangi.

 Memanipulasi kondisi emosional (Manipulating emotional conditions)
Contoh dari memanipulasi kondisi emosional adalah seseorang yang bepergian untuk mencari suasana baru. Hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan stimulus yamg dapat merangsang respon emosional.

 Menggunakan stimulasi aversif (Using aversive stimulation)
Contohnya adalah seorang pelajar yang menyetel alarm agar nanti ia bisa bangun pagi. Hal tersebut merupakan bagian dari aversive control (pengkondisian penghindaran atau pelarian yang diperoleh melalui pemberian penguatan negatif).

 Drugs
Penggunaan self-administered drugs ini memperbolehkan individu untuk menstimulasi perubahan di dalam sejarah kondisioningnya.

 Operant Conditioning
Penggunaan token economy atau metode-metode dan teknik-teknik unik lainnya untuk operant conditioning dapat terkesan sebagai bentuk khusus dari kontrol diri (self-control).
Bagaimana memulai Ekonomi Token ? Apabila anda merasa perlu
menerapkannya, perhatikan langkah-langkah sebagai berikut;
1. langkah pertama adalah; mengenali dengan jelas tingkah laku yang akan diubah dengan ekonomi token. Ekonomi token dengan sukses mempengaruhi akademik, perilaku sosial dan kemampuan di dalam kelas. Definisikan perilaku tersebut secara spesifik, dapat diamati (observable) dan terukur supaya dapat menjaga konsistensi dalam implementasinya.
2. Memulai Token
a.Pilih jenis token yang akan dipakai.
Banyak benda yang dapat di pakai sebagai token. kita dapat menggunakan uang mainan, kelereng, kacang, kancing, sticker dan berbagai benda lain. Apabila anda menghadapi anak yang lebih kecil perhatikan keamanan token supaya tidak tidak terjadi anak menelan token atau memasukan dalam hidung atau telinga, maka anda perlu menggunakan objek yang dapat ditempel seperti stiker atau kertas lem. Yang perlu diingat dalam memilih token yaitu mudah untuk dihitung, sulit untuk dipalsukan dan aman untuk digunakan.
b.Pilih Penguat/Hadiah yang ditukar dengan token (reinforcer).
Kemudian kita dapat memilih hadiah yang dapat ditukar dengan token yang telah dkumpulkan. Hadiah ini tidak perlu mahal, uang saku tambahan mungkin atau bisa digunakan adalah waktu santai/ istimewa (privilage). Misalnya dengan memberikan atau membuatkan makanan kesukaan atau boleh menonton acara kesukaan di tivi.
c.Hitung berapa nilai token untuk suatu perilaku.
Kemudian anda perlu mengatur berapa nilai token untuk suatu perilaku yang diinginkan. Misalnya saja apabila di kelas yaitu tidak terlambat berharga 1 token, mengangkat tangan sebelum bertanya bernilai 1 token, atau mengerjakan PR bernilai 2 token, dapat mengerjakan semua soal bernilai 5 token. Apabila untuk orang tua di rumah misalnya membantu membuang sampah bernilai 2 token, membereskan tempat tidur bernilai 3 Token. Anda dapat pula menerapkan apabila murid/ anak menunjukan perilaku yang negatif anda dapat mengambil sejumlah / sebagian token sebagai bentuk punishment. Namun anda harus memperhatikan perilaku apa yang jelas untuk dijadikan patokan sebagai hukuman.
d.Berapa harga untuk hadiah yang akan ditukar dengan token.
Anda juga perlu mengatur berapa harga hadiah yang dapat ditukar dengan jumlah token. misalnya saja 100 token dapat ditukar dengan uang saku tambahan sejumlah Rp. 5000, menonton tivi kesukaan senilai 10 token, main game di komputer 10 token. anda perlu mengatur dan menjaga konsistensinya.
e.Buatlah bank Token.
Anda perlu mengorganisasikan token untuk anak didik atau anak-anak anda. Anda perlu mencatat atau mengorganisasikannya sehingga teratur, oleh karena itu anda membutuhkan Bank Token. Bank Token dapat berbentuk Toples untuk token yang berupa kancing, kelereng, atau hal lain yang tidak dapat ditempel. Bisa pula berupa papan/ kertas yang dapat ditempel bisa pula papan tulis sehingga dapat leluasa mengganti jumlah token. supaya menghindari kecurangan dari anak didik bank token perlu ditempatkan di tempat yang dapat terlihat oleh semua anak.
f.Tentukan kapan waktu kapan menukar tokennya.
Menentukan kapan waktu untuk menukar token yang sudah dikumpulkan anak-anak. Anda perlu membuat kesepakatan dengan anak-anak kapan mereka dapat menukarkan token secara berkala.
Bagaimana Mengimplementasikan Program Ekonomi Token?
a. Jelaskan program ini.
Pertama untuk dilakukan adalah anda harus menjelaskan bagaimana program ini akan berkerja, seluruh aspek ekonomi token akan anda jelaskan. Penting anda menjelaskan bagaimana dan kapan program ini akan memberikan dampak positif. Jelaskan pula mana ekonomi token yang akan dilakukan setiap hari dan mana ekonomi token yang berlaku pada waktu yang insidentil atau diperlukan. Hal ini akan memerlukan diskusi yang intens dan hati-hati, perlu juga dilakukan roleplaying untuk mendemonstrasikan program ini. Apabila anda seorang guru sangat baik apabila orang tua murid mengetahui bagaimana program ini. Karena dukungan orang tua akan sangat mempengaruhi sistem ini bekerja.
b.Berikan Token beserta pujian.
Saat mengimplementasikan ekonomi token, pujian harus selalu menyertai untuk perilaku positif yang diinginkan. Saat anak menunjukan perilaku yang diinginkan, Token dan pujian harus diberikan dengan cepat dan tidak boleh ditunda.
c.Kurangi Token dan pertahankan Pujian.
Untuk perilaku baru yang positif token hendaknya diberikan, dengan dasar keterlanjutan. Token dikurangi apabila perilaku tersebut sudah mulai dimiliki oleh anak, namun pujian tetap diberikan sebagai penguatan apabila anak menunjukan perilaku yang benar. Token tetap diberikan untuk perilaku-perilaku baru yang harus dikuasai oleh anak. Hal ini dilakukan supaya anak tidak tergantung pada token sehingga anak dapat belajar pada kehidupan sosial sebenarnya.
d.Buat Penyesuaian yang dibutuhkan.
Untuk menjaga morivasi dan ketertarikan anak sesuaikan harga untuk hadiah yang akan ditukar dengan token, dan sesuaikan target tingkat kesulitan perilakuan. Hal ini perlu dilakukan supaya anak tertantang untuk terlibat dalam ekonomi token. apabila perilaku terlalu mudah atau terlalu sulit maka anak akan tidak termotivasi untuk terlibat aktif dalam program ekonomi token. Anda harus membuat keseimbangan di dalam program token sehingga sesuai dengan kemampuan, ketertarikan, dan motivasi anak-anak.

Beberapa Variasi Teknik
Ekonomi token dapat dimodifikasi atau diperbaiki dengan berbagai variasi yang diperlukan. Beberapa variasi yang dapat ditambahkan yaitu;
1. Memperbolehkan anak menikmati hadiah (reinforcers) bersama teman sebayanya.
2. pengelolaan program token ekonomi oleh anak-anak/murid
3. Kombinasikan program ekonomi token dengan program level kelas. Semakin tinggi kelas maka token, tingkat kesulitan perilaku, dan pengelolaan dapat dikombinasikan dengan level pembinaan dan pendidikannya.
4. kombinasikan dengan kelompok yang berbeda.
Anda dapat memodifikasi teknik ini sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Token ini membutuhkan ketekunan dan kesabaran, ekonomi token membutuhkan waktu untuk dapat memberikan hasil yang diinginkan. Keterampilan mengelola ekonomi akan terasah dengan baik seiring dengan waktu dan keseriusan dari pelaksanan program.
Namun yang pasti adalah sediakan waktu yang cukup bersama anak anda. Program ini menuntut anda lebih dekat dengan anak/murid anda, program ini tidak akan berjalan tanpa adanya komunikasi yang baik antara guru/orang tua dengan murid/anak.

 Punishment
Self-punishment dari berbagai respon akan masuk ke dalam penyusunan kesatuan punishment dalam respon-respon yang tidak menyenangkan. Hal ini bisa dilihat pada perilaku menghukum dirinya sendiri yang terjadi pada biarawati atau orang-orang religius lainnya. Hal ini juga tentu saja berbeda dengan stimulasi aversif, sebagai contoh, jam alarm menyebabkan seseorang pergi dari alarmnya, sementara itu self-punishment menimbulkan stimulasi untuk mengurangi kemungkinan perilaku yang sama terjadi di masa yang akan datang.
Punishment (hukuman) lebih seperti konformitas daripada kontrol diri karena disana membutuhkan dorongan internal (internal drives), bukan sumber eksternal dari punishment (external source of punishment) yang membuat individu ingin melakukan sesuatu. Disana terdapat external locus of control yang mirip dengan determinisme (determinism), dan ada internal locus of control yang mirip dengan free will (kemauan bebas). Determinisme merupakan doktrin yang menyatakan bahwa setiap dampak pasti ada sebabnya, artinya semua bentuk tingkah laku merupakan satu fungsi dari faktor-faktor penyebab baik yang terdapat di tengah lingkungan individu maupun yang ada di dalam dirinya sendiri. Sedangkan lawan dari determinisme adalah kemauan bebas (freewill), yaitu doktrin yang menyatakan bahwa tingkah laku itu pada akhirnya diatur oleh kemauan tanpa menghiraukan pengaruh eksternal. Dengan mempelajari system of punishment, individu tidak membuat keputusan mereka berdasarkan apa yang mereka inginkan, melainkan berdasarkan pada faktor eksternal. Ketika seseorang menggunakan negative reinforcement kemungkinan ia akan mempengaruhi keputusan internal mereka dan mengizinkan mereka untuk membuat pilihannya sendiri dimana dengan punishment individu akan membuat keputusan mereka berdasarkan konsekuensi dan tidak mengunakan self control (kontrol diri). Cara terbaik untuk mempelajari kontrol diri adalah dengan free will dimana orang dapat merasa bahwa mereka sedang membuat pilihan-pilihannya sendiri.

 Melakukan sesuatu/hal yang lain.
Ketika diri kita sedang dipenuhi dengan kemarahan atau kebencian, kita harus mengontrol diri kita sendiri atau sesuatu yang lebih spesifik yang bertentangan dengan respon kita.

 Environment and Schooling
Lingkungan memaninkan peran yang penting/signifikan bagi perkembangan self control pada anak. Seperti kita ketahui bahwa ada hubungan yang positif antara usia dengan kontrol diri. Sebagai contoh, di sekolah anak-anak diajari bahwa mereka tidak dapat memiliki mainan apapun yang mereka inginkan, dan mereka pun harus berbagi mainan dengan yang lainnya. Mereka juga harus bertanya dengan sopan mengenai apapun yang mereka inginkan dan mereka tidak boleh memukul teman yang lainnya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Selain itu, mereka juga tidak boleh main dimanapun. Mereka diajari bahwa jika mereka belajar dengan keras di kelasnya, maka mereka bisa mendapat izin untuk istirahat atau main. Hal tersebut dilakukan untuk mengajari anak agar menunda kepuasannya dan cara ini sangat efektif digunakan pada anak. Keluarga juga memiliki peran yang sangat penting, terutama orang tua dan saudara kandung, orang tua mengajar anak-anaknya tentang kontrol diri. Sebagai contoh, keluarga mengajarkan anggota keluarganya mengenai kontrol diri dalam menonton televisi dan apa yang akan dihasilkan dari menonton aksi-aksi di televisi.

Pengertian Self Management/Manajemen Diri



BAB III
KESIMPULAN

Kendali/kontrol diri (self-control) adalah kemampuan untuk membimbing tingkah laku sendiri; kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-impuls atau tingkah laku impulsive (mencirikan kegiatan untuk terlibat dalam suatu kegiatan tanpa refleksi/ tanpa berpikir secukupnya atau yang tidak dapat ditahan-tahan, tidak dapat ditekan). Kontrol diri berperan dalam hubungan seseorang dengan orang lain, selain itu kontrol diri berperan dalam pencapaian tujuan pribadi. Sumber kontrol diri individu dapat dibedakan menjadi dua: faktor di dalam dan di luar diri seseorang. B.F.Skinner mengadakan penelitian survey mengenai sembilan kategori metode kontrol diri, yaitu Pengendalian dan Pertolongan Diri (Physical Restraint and Physical Aid), merubah stimulus (Changing the stimulus), Deprivasi dan Satiasi (Deprivating and Satiating), Memanipulasi kondisi emosional (Manipulating emotional conditions), menggunakan stimulasi aversif (Using aversive stimulation), Drugs,Operant Conditioning, Punishment, Melakukan sesuatu/hal yang lain, Environment and Schooling.


makalah psikologi tentang "social learning"

makalah ini adalah tugas dari kakak tingkat saya di jurusan psikologi upi bandung yang saya posting di blog ini. semoga bisa menjadi bahan acuan bagi teman-teman lain yang ingin membuat suatu hal yang berkaitan dengan bahan yang saya post kan ini.


BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Albert Bandura merupakan tokoh yang mengemukakan mengenai teori belajar sosial. Teori ini penting bagi Teori Pembelajaran Sosial. Terletak dalam perkembangan gagasan-gagasannya yang melampaui model-model penguat kelanjutan yang menjadi awal dari teori pembelajaran sosial. Selanjutnya Bandura terus mengembangkan gagasan-gagasannya tentang proses-proses kognitif yang terlibat dalam pembelajaran sosial. Khususnya ditekankan peran pentingnya pengharapan yang dimiliki seseorang tentang sebab akibat perbuatannya.
Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa baik tingkah laku (B), lingkungan (E) dan kejadian-kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking),
Hubungan antara lingkungan, tingkah laku dan kejadian-kejadian internal itu sering kali bersifat kompleks. Pada gilirannya ,konsepsi diri sendiri atau seseorang dipengaruhi oleh tingkah laku atau perilaku yang serupa sehingga prasangka-prasangka tersebut mengalami perubahan atau sebaliknya
Hubungan antara tiga factor tersebut adalah reciprocal diterminism, atau diterminisme timbal balik. Istilah determinisme disini tidak berarti bahwa individu itu ditentukan oleh ‘sebab’ yang sudah ada sebelumnya, tetapi bahwa akibat-akibat yang timbul disebabkan oleh peristiwa yang teerjadi.

B. Tujuan
Tujuannya adalah untuk mengetahui gambaran teori belajar sosial Albert Bandura secara mendetail serta pengaruhnya terhadap pembentukan tingkah laku.




BAB II
ISI

A. Biografi Tokoh
Albert Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925, di kota kecil Mundare bagian selatan Alberta, Kanada. Dia sekolah di sekolah dasar dan sekolah menengah yang sederhana, dengan fasilitas pendidikan yang sangat terbatas, namun dengan hasil rata-rata yang sangat memuaskan. Setelah selesai SMA, dia bekerja pada perusahaan penggalian jalan raya Alaska Highway di Yukon.
Dia menerima gelar sarjana muda di bidang psikologi dari University of British of Columbia tahun 1949. Kemudian dia masuk University of Lowa, tempat dimana ia meraih gelar Ph.D tahun 1952. Baru setelah itu dia menjadi sangat berpengaruh dalam tradisi behavioris dan teori pembelajaran.
Waktu di Lowa dia bertemu dengan Virginia Varns, seorang instruktur sekolah perawat. Mereka kemudian menikah dan dikaruniai dua orang puteri. Setelah lulus dia meneruskan pendidikanya ke tingkat post-doktoral di Wichita Guidance Center di Wichita, Kansas.
Tahun 1953, dia mulai mengajar di Stanford University. Disinilah dia kemudian bekerja sama dengan salah satu seorang anak didiknya, Richard Walters. Buku pertama hasil kerja sama mereka berjudul Adolescent Aggression terbit tahun 1959. Sayangnya, Walters mati muda karena kecelakaan sepeda motor.
Bandura menjadi presiden APA tahun 1973, dan menerima APA Award atas jasa-jasanya dalam distinguished Scientifik Contribution tahun 1980. Sampai sekarang dia masih mengajar di stanford University.

B. Sejarah Munculnya teori
Dalam perkembangan Psikologi, yang mendapat sebutan mazhab ‘kedua’ adalah karya para ahli yang berhu¬bungan dengan teori Behaviorisme. Teori yang bersifat umum ini dirumuskan oleh John B. Watson (1878-1958) tepat pada peralihan abad ini. Saat itu, Watson adalah seorang guru besar psikologi di Universitas Johns Hopkins. la berupaya menjadikan studi tentang manusia seobjektif dan seilmiah mungkin, karenanya seperti Sigmund Freud, ia berusaha mereduksikan tingkah laku manusia menjadi perkara kimiawi dan fisik semata.
Kini kata ‘behaviorisme’ biasanya digunakan untuk melukiskan isi sejumlah teori yang saling berhubungan di bi¬dang psikologi, sosiologi dan ilmu ilmu tingkah laku meliputi bukan hanya karya John Watson, melainkan juga karya to¬koh tokoh seperti Edward Thorndike, Clark Hull, John Dol¬lard, Neal Miller, B.F. Skinner, dan masih banyak lagi. Para pendahulu aliran pemikiran ini adalah Isaac Newton, yang berhasil mengembangkan metode ilmiah di bidang ilmu ilmu fisik, dan Charles Darwin, yang menyatakan bahwa manusia merupakan hasil proses evolusi secara kebetulan dari bina¬tang binatang yang lebih rendah.
Behaviorisme amat banyak menentukan perkembangan psikologi terutama dalam ekperimen eksperimen. Walaupun Watson sering dianggap tokoh utama aliran ini, tetapi sebenarnya perkembangannya dapat dilacak sampai kepada empirisisme dan hedonisme pada abad XVIII – XVIII.
Aristoteles berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, ibarat sebuah meja lilin (tabula rasa) yang siap dilukis oleh pengalaman. Dari Aristoteles, John Locke (1632 1704), tokoh empirisme Inggris, meminjam konsep ini. Menurut kaum empiris, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai “warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman satu satunya jalan ke pemilikan pengetahuan. Bukanlah ide yang menghasilkan pengetahuan, tetapi keduanya adalah produk pengalaman. Secara psikologis, ini berarti seluruh perilaku manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience). Pikiran dan perasaan, bukan penyebab perilaku tetapi disebabkan perilaku masa lalu.
Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme dan juga psikoanalisis. Behaviorisme ingin menganalisis hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia kecuali instink adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor faktor lingkungan.
Albert Bandura menambahkan konsep belajar sosial (social learning). la mempermasalahkan peranan, ganjaran, dan hukuman dalam proses belajar. Banyak perilaku yang tidak dapat dijelaskan dengan mekanisme pelaziman dan peneguhan. Bandura menyatakan bahwa belajar terjadi karena peniruan (imitation). Kemampuan meniru respons orang lain, misalnya meniru bunyi yang sering didengar, adalah penyebab utama belajar. Ganjaran dan hukuman bukanlah faktor penting dalam belajar, tetapi faktor yang penting dalam melakukan satu tindakan (performance).

C. Isi Teori
Dalam situasi alami, orang belajar tingkah laku-tingkah laku baru dengan jalan mengamati model model tingkah laku orang lain dan melalui efek-efek perbuatannya sendiri. Proses kognitif menyerap informasi dari bermacam-macam tingkah laku yang diamati. informasi ini kemudian disimpan dalam ingatan yang mungkin kemudian akan diujudkan dalam tingkah laku. Sehubungan dengan itu komponen belajar dapat di bedakan menjadi tiga macam, yaitu :model tingkah laku, akibat-akibat tingkah laku dan proses kognitif.

a. Model Tingkah Laku
Peranan utama model tingkah laku adalah memindahkan informasi kepada pengamat. Peranan ini dapat dirinci menjadi tiga macam, yaitu :
• Sebagai contoh untuk ditiru
• Mnguatkan atau melemahkan ketahanan pengamat terhadap dilakukannya tingkah laku tertentu.
• memindahkan pola-pola tingkah laku baru

Sebagai stimulus, model tingkah laku dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
 Model hidup (life modeling), termasuk disini anggota –anggota keluarga, handai tolan, teman sekerja dan sebagainya dengan siapa seseorang mempunyai hubungan langsung. dalam kehidupan sehari-hari seseorang memperoleh informasi dari hubungansosial ini.
 Model simbolik (symbolic modeling), model simbolik adalah gambaran tingkah laku dalam pikiran.dalam kehidupan modern ini media massa merupakan sumber model-model tingkah laku.
 Deskripsi verbal, deskripsi verbal adalah model yang bukan berupa tingkah laku, tetapi berujud intruksi-intruksi, misalkan serangkaian instruksi untuk merakit peralatan.

b. Akibat-akibat atau konsekuensi-konsekuensi tingkah laku
Konsekuensi tingkah laku juga merupakan unsur yang penting dalam teori belajar sosial, yang menyangkut tiga macam reinforcement, yaitu :
 Direc reinforcement, yaitu suatu tipe konsekuensi. peristiwa yang dapat menguatkan tingkah laku baik menyenangkan atau tidak menyenangkan. Misalkan dengan memberikan hadiah kepada seorang anak yang mendapatkan nilai baik.
 Vicarious reinforcement, yaitu konsekuensi yang terkait dengan tingkah laku orang lain yang diamati. Sebagai contoh ialah anak yang melihat temannya berkelahi, karena perbuatan berkelahi itu dipuji oleh teman-taman sekelasnya hal itu merupakan reinforcement yang mengarah dilakukannya perbuatan berkelahi di waktu-waktu yang lain.
Selain itu Vicarious reinforcement, juga berfungsi membangkitkan respons-respons yang bersifat emosional. yang nantinya akan membangkitkan rasa puas, bangga, agung dan sebagainya.
 Self-reinforcement, yaitu konsekuensi yang berhubungan dengan standar tingkah laku pribadi.
Self reinforcement, self reinforcement ia harus secara sadar diusahakan sendiri oleh seseorang.self reinforcement memiliki tiga unsur :
• Standar tingkah laku buatan sendiri
• Kajian-kajian yang memberikan reinforcement dibawah pengendalian sendiri
• Seseorang sebagai pelaku reinforcement sendiri.
Pada umumnya orang membuat standar tingkah laku bagi dirinya sendiri dan cenderung mrespon terhadap tingkah lakunya sendiri dengan cara-cara yang menyenangkan kalau tingkah lakunya sesuai atau melampaui standar tersebut.sebaliknya dia akan merespon dengan car mengkritik diri sendiri kalau tingkah lakunya tidak sesuai dengan standar.

c. Proses Kognitif
Dalam teori belajar sosial, proses kognitif memegang peranan penting. Kemampuan seseorang untuk membuat kode, menyimpan pengalaman-pengalaman dalam bentuk lambang yang membayangakan konsekuensi-konsekuensi yang bakal terjadi penting sekali untuk memperoleh dan mengubah tingkah laku.
Pemrosesan kognitif terhadap peristiwa–peristiwa yang mungkin terjadi menjembatani jurang antara tingkah laku dan hasil tingkah laku. Proses kognitif memiliki empat macam komponen, yaitu : perhatian, retansi, reproduksi motorik dan motivasi. Perhatian dan retansi mengatur diperolehnya perbuatan-perbuatan yang diamati.berikutnya perbuatan-perbuatan tersebut diatur oleh mekanisme produksi motorik dan motivasi.

1) Perhatian
Menurut Bandura, perhatian itu penting karena tingkah laku-tinkah laku yang baru tidak dapat diperoleh kecuali kalau diperhatikan dan di persepsi secara tepat.perhatian ini dipengaruhi beberapa faktor, antara lain karakteristikmodel,karakteristik dan nialai fungsional tingkah laku yang diamati ditentukan oleh reinforcement dari tinkah laku. Tingkah laku yang mempengaruhi perhatian ialah kompleksitas dan relefansi.
Relevansi menunjuk pada arti dan pentingnya tingkah laku yang diamati bagi orang yang mengamatinya. Di antara karakteristik orang yang mengamati ysng mempengaruhi perhatian adalah persepsi ketrampilan mengamati, taraf terbangkitnya emosi,perilaku yang lampau dan kemampuan indrawi. Taraf terbangkitnya emosi dan persepsi mempengaruhi dipilihnya hal-hal yang akan diamat, sedangkan ketrampilan mengamati mempengaruhi ketepatan pemrosesan.

2) Retensi
Retensi berkaitan dengan pengkodean tingkah laku menjadi kode fisual atau kode verbal dan penyimpanannya di dalam ingatan. pentingnya proses ini adalah bahwa orang yangbelajar tidak dapat memperoleh manfaat dari tingkahlaku-tingkah laku yang diamatinya terkecuali kalau tingkah laku itu dikode dan disimpan di dalam ingatan untuk kelak digunakan pada waktu yang lain.
Satu proses retansi yang penting ialahlatiahn atau praktak yang diulang –ulang.proses retansi juga dipengaruhi oleh taraf perkembangan seseorang.
3). Reproduksi Motorik
Setelah memperoleh kode simbolik,dilakukannya tingkah laku - tingkah laku yang diperoleh itu bergantung pada reproduksi motorik dan motivasi seseorang. reproduksi motorik ialah memilih dan menyusun respons-respons pada taraf kognitif, diikuti dengan tindak perbuatan.

4) Motivasi
Belajar melalui pengamatan menjadi efektif apabila pelajar memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat melakukan tingkah laku modelnya. Observasi mungkin memudahkan orang untuk menguasai tingkah laku tertentu, tetapi kalau motivasi untuk itu tidak ada, maka tidak akan terjadi proses belajar. Selain itu juga, harus ada penguatan dalam motivasi, misalnya motivasi banyak ditentukan oleh kesesuaian antara karakteristik pribadi pengamat dengan karakteristik modelnya. Ciri-ciri model seperti usia, status sosial, seks, keramahan, dan kemampuan penting dalam menentukan tingkat imitasi. Anak lebih senang meniru model seusianya daripada model dewasa. Anak juga cenderung meniru model yang standar prestasinya dalam jangkauannya, alih-alih model yang standarnya di luar jangkauannya. Anak yang sangat dependen cenderung mengimitasi model yang dependennya lebih ringan. Imitasi juga dipengaruhi oleh interaksi antara ciri model dengan observernya. Anak cenderung mengimitasi orang tuanya yang hangat dan terbuka, gadis lebih mengimitasi ibunya.

Namun, penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks tidak hanya bergantung pada proses perhatian, retensi, motor reproduksi dan motivasi saja. Tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni “sense of self Efficacy” dan “self – regulatory system”.
 Efikasi Diri (Self Effication)
Bagaimana orang bertingkah laku dalam situasi tertentu tergantung kepada resiprokal antara lingkungan dengan kondisi kognitif, khususnya faktor kognitif yang berhubungan dengan keyakinannya bahwa dia mampu atau tidak mampu melakukan tindakan yang memuaskan. Bandura menyebut keyakinan atau harapan diri ini sebagai efikasi diri, dan harapan hasilnya disebut ekspektasi hasil.
1. Efikasi Diri atau efikasi ekspektasi (self effication – efficacy expectation)
Efikasi diri adalah persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu. Efikasi diri berhubungan dengan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan.
2. Ekspektasi Hasil (outcome expectations)
Perkiraan atau estimasi diri bahwa tingkah laku yang dilakukan diri itu akan mencapai hasil tertentu. Efikasi adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Efikasi ini berbeda dengan aspirasi (cita-cita), karena cita-cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya dicapai, sedang efikasi menggambarkan penilaian kemampuan diri. Orang dapat memiliki ekspektasi hasil yang realistik (apa yang diharapkan sesuai dengan kenyataan), atau sebaliknya ekspektasi hasilnya tidak realistik (mengharap terlalu tinggi dari hasil nyata yang dapat dicapai).

 Sumber Efikasi Diri
Perubahan tingkah laku dalam sistem Bandura kuncinya adalah perubahan ekspektasi efikasi (efikasi diri). Efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan melalui salah satu atau kombinasi empat sumber, yakni pengalaman menguasai sesuatu prestasi (performance accomplishment), pengalaman vikarius (vicarious experience), persuasi sosial (social persuation) dan pembangkitan emosi (emotional / psycholoical states).

a. Pengalaman Performansi
Adalah prestasi yang pernah dicapai pada massa yang telah lalu. Sebagai sumber, performansi masa lalu menjadi pengubah efikasi diri yang paling kuat pengaruhnya. Prestasi (masa lalu) yang bagus akan meningkatkan ekspektasi efikasi, sedangkan kegagalan akan menurunkan efikasi. Mencapai keberhasilan akan memberi dampak efikasi yang berbeda-beda, tergantung proses pencapaiannya:
1) Semakin sulit tugasnya, keberhasilan akan membuat efikasi semakin tinggi.
2) Kerja sendiri, lebih meningkatkan efikasi dibanding kerja kelompok, dibantu orang lain.
3) Kegagalan menurunkan efikasi, kalau orang merasa sudah berusaha sebaik mungkin.
4) Kegagalan dalam suasana emosional/stress, dampaknya tidak seburuk kalau kondisinya optimal.
5) Kegagalan sesudah orang memiliki keyakinan efikasi yang kuat, dampaknya tidak seburuk kalau kegagalan itu terjadi pada orang yang keyakinan efikasinya belum kuat.
6) Orang yang biasa berhasil, sesekali gagal tidak mempengaruhi efikasi.

b. Pengalaman Vikarius
Diperoleh melalui model sosial. Efikasi akan meningkat ketika mengamati keberhasilan orang lain, sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang yang kemampuannya kira-kira sama dengan dirinya ternyata gagal. Kalau figur yang diamati berbeda dengan diri si pengamat, pengaruh vikarius tidak besar. Sebaliknya ketika mengamati kegagalan figur yang setara dengan dirinya, bisa jadi orang tidak mau mengerjakan apa yang pernah gagal dikerjakan figur yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama.


c. Persuasi Sosial
Efikasi diri juga dapat diperoleh, diperkuat atau dilemahkan melalaui persuasi sosial. Dampak dari sumber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari orang kain dapat mempengaruhi efikasi diri. Kondisi itu adalah rasa percaya kepada pemberi persuasi dan sifat realistik dari apa yang dipersuasikan.

d. Keadaan Emosi
Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi efikasi di bidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, takut, cemas, stress, dapat mengurangi efikasi diri. Namun bisa terjadi, peningkatan emosi (yang tidak berlebihan dapat meningktakan efikasi diri).

 Efikasi Diri Sebagai Prediktor Tingkah Laku
Menurut Bandura, sumber pengontrol tingkah laku adalah resiprokal antara lingkungan, tingkah laku, dan pribadi. Efikasi diri merupakan variabel pribadi yang penting, yang kalau digabung dengan tujuan-tujuan spesifik dan pemahaman mengenai prestasi, akan menjadi pennetu tingkah laku mendatang yang penting, revikasi diri bersifat pragmental. Setiap individu mempunyai efikasi diri yang berbeda-beda pada situasi yang berbeda, tergantung pada:
a. Kemampuan yang dirtuntut oleh situasi yang berbeda itu
b. Kehadiran orang lain, khususnya saingan dalam situasi itu.
c. Keadaan fisiologis dan emosional; kelelahan, kecemasan, apatis, murung.
Efikasi yang Tinggi atau rendah, dikombinasikan dengan lingkungan yang responsif atau tidak responsif, akan menghasilkan empat kemungkinan prediksi tingkah laku.

Kombinasi Efikasi dengan Lingkungan sebagai Prediktor Tingkah Laku
Efikasi Lingkungan Prediksi hasil tingkah laku
Tinggi Responsif Sukses, melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuannya.
Rendah Tidak responsif Depresi, melihat orang lain sukses pada tugas yang dianggapnya sulit.
Tinggi Tidak responsif Berusaha keras mengubah lingkungan menjadi responsif, melakukan protes, aktivitas sosial, bahkan memaksakan perubahan.
Rendah Responsif Orang menjadi apatis, pasrah, merasa tidak mampu.

 Efikasi Kolektif
Keyakinan masyarakat bahwa usaha mereka secara bersama-sama dapat menghasilkan perubahan sosial tertentu, disebut efikasi kolektif. Ini buka jiwa kelompok tetapi lebih sebagai efikasi pribadi dari banyak orang yang bekerja bersama. Bandura berpendapat, orang berusaha mengontrol kehidupan dirinya bukan hanya melalui efikasi diri individual, tetapi juga melalui efikasi kolektif. Misalnya, dalam bidang kesehatan, orang memiliki efikasi diri yang tinggi untuk berhenti merokok atau melakukan diet, tetapi mungkin memiliki efikasi kolektif yang rendah dalam hal mengurangi polusi lingkungan, bahaya tempat kerja dan penyakit infeksi. Efikasi diri dan efikasi kolektif bersama-sama saling melengkapi untuk mengubah gaya hidup manusia. Efikasi kolektif timbul berkaitan dengan masalah-masalah perusakan hutan, kebijakan perdagangan internasional, perusakan ozon, kemajuan teknologi, hukum dan kejahatn, birorasi, perang, kelaparan, bencana alam, dan sebagainya.


D. Aplikasi Teori Belajar Sosial
Beberapa waktu ini kita, sering dihebohkan dengan berita kekerasan pada remaja. Baik dalam organisasi formal, maupun non formal. Misalnya dalam ospek,kemahasiswaan, ataupun dalam geng-geng putri sering terjadi kekerasan/agresi. Kekerasan/agresi pada remaja ini merupakan hasil aplikasi dari teori belajar social dimana jika pelaku kekerasan sebelumnya pernah mengalami tindakan kekerasan yang serupa maka akan ada kemungkinan akan melakukan hal yang sama pula pada orang lain, termasuk orang-orang terdekatnya misalnya dalam hal ini adik angkatnya atau teman segeng-nya.
Menurut analisis teori Bandura proses pembelajaran tentang perilaku kekerasan akan semakin dikuatkan apabila kita sadar dan memahami keuntungan-keuntungan yang didapat dari perilaku kekerasan tersebut. Selain itu, agresi/kekerasan diperoleh melalui pengamatan, pangalaman langsung dengan reinforcement positif dan negatif, latihan atau perintah, dan keyakinan yang ganjil. Agresi/kekerasan yang ekstrim menjadi disfungsi atau salahsuai psikologis. Dari penelitian yang dilakukan Bandura, observasi terhadap perilaku kekerasan/agresi akan menghasilkan respon peniruan yang berlebih. Pengamat akan bertingkah laku lebih agresif dibanding modelnya.










BAB III
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa baik tingkah laku (B), lingkungan (E) dan kejadian-kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking), Hubungan antara lingkungan, tingkah laku dan kejadian-kejadian internal itu sering kali bersifat kompleks.
Dalam situasi alami, orang belajar tingkah laku-tingkah laku baru dengan jalan mengamati model model tingkah laku orang lain dan melalui efek-efek perbuatannya sendiri. Proses kognitif menyerap informasi dari bermacam-macam tingkah laku yang diamati. informasi ini kemudian disimpan dalam ingatan yang mungkin kemudian akan diujudkan dalam tingkah laku. Sehubungan dengan itu komponen belajar dapat di bedakan menjadi tiga macam, yaitu : model tingkah laku, akibat-akibat tingkah laku dan proses kognitif.
Namun, dalam penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks dip roses kognitif, tidak hanya bergantung pada proses perhatian, retensi, motor reproduksi dan motivasi saja. Tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari diri pembelajar sendiri yakni “sense of self Efficacy” dan “self – regulatory system”.
Aplikasi dari teori Bandura ini, dikehidupan sehari-hari, misalnya kekerasan atau agresifitas yang ada di kalangan remaja putri atau dikalangan mahasiswa yang sedang ospek.


Saturday, October 31, 2009

pengertian motivasi menurut para ahli :

berikut ini adalah beberapa pengertian psikologi menurut para ahli psikologi yang ada.

1.Cropley, (1985) Motivasi dapat dijelaskan sebagai “tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu”

2. Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Pengertian ini jelas bernafaskan behaviorisme.

3. Mitchell, motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela yang diarahkan ke tujuan tertentu.

4. Gray, lebih suka menyebut pengertian motivasi sebagai sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.

5.Morgan, mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku, tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut, dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut.

6.McDonald, memilih pengertian motivasi sebagai perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi mencapai tujuan. Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini berbeda karena setiap anggota suatu organisasi adalah unik secara biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula.

7. Wexley & Yukl adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif.

8.Chung dan Megginson yang dikutip oleh Faustino Cardoso Gomes, menerangkan bahwa pengertian motivasi adalah tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang yang mengejar suatu tujuan dan berkaitan dengan kepuasan kerja dan perfoman pekerjaan.

9.T. Hani Handoko, mengemukakan bahwa motivasi adalah keadaan pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.

10. A. Anwar Prabu Mangkunegara, memberikan pengertian motivasi dengan kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara prilaku yang berubungan dengan lingkungan kerja.

11. H. Hadari Nawawi, mendefinisikan motivasi sebagai suatu keadaan yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan sesuatu perbuatan atau kegiatan yang berlangsung secara sadar.

12. Henry Simamora, pengertian motivasi menurutnya adalah Sebuah fungsi dari pengharapan individu bahwa upaya tertentu akan menghasilkan tingkat kinerja yang pada gilirannya akan membuahkan imbalan atau hasil yang dikehendaki.

13. Soemanto, secara umum mendefinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang.