Tuesday, November 6, 2012

Autisme


Autisme dalam istilah kedokteran adalah satu jenis penyakit pertumbuhan pervasive. Dimana penyakit pertumbuhan pervasive tersebut termasuk pada suatu golongan penyakit dimana terdapat keterlambatan dan penyimpangan kemampuan sosial, kemampuan berbahasa dan komunikasi, serta keanehan perilaku (tim akademik kedokteran UNISBA).
Autisme dapat juga didefinisikan sebagai  kelainan perkembangan yang luas dan berat, dan mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan tersebut mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku (Suriviana,2005).
Dalam kamus psikologi umum, autisme adalah preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari.
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal (Wikipedia).
Autisme dalam Data Statistical Manual R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung PDD (Perpasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder). Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di bawah (umbrella term) PDD, yaitu:
1) Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan aktivitas.
2) Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
3) Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
4) Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun. 5) Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.

           Gejala penyakit autis
Gejala autisme infantile timbul sebelum anak berusia 3 tahun. Secara umum gejala paling jelas terlihat antara umur 2 – 5 tahun. Bahkan pada beberapa kasus aneh gejala terlihat pada masa sekolah.
Berdasarkan penelitian lebih banyak didapatkan pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Beberapa tes untuk mendeteksi dini kecurigaan autisme hanya dapat dilakukan pada bayi berumur 18 bulan ke atas.
Adapula criteria untuk mendiagnosis penyakit autis (Tim akademik kedokteran Unisba), yaitu:
1.      Adanya kelainan interaksi sosial yang dimanifestasikan dalam hal dibawah ini:
a.       Adanya kelainan dalam penggunaan perilaku nonverbal seperti kontak mata ke mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gesture dalam regulasi interaksi sosial.
b.      Tidak menunjukkan perkembangan hubungan dengan teman sebaya sesuai dengan umurnya.
c.       Tidak adanya pencarian secara spontan untuk berbagi kebahagiaan/kesukaan dengan orang lain.
2.      Adanya kelainan dalam komunikasi yang dimanifestasikan minimal satu dari hal-hal dibawah ini:
a.       Keterlambatan/tidak adanya perkembangan bahasa verbal (tidak disertai dengan usaha untuk menggunakan bahasa alternative seperti gesture tubuh/mimik wajah)
b.      Pada individu yang memiliki kemampuan berbicara, terdapat ketidakmampuan untuk memulai/menjaga percakapan dengan orang lain.
c.       Adanya penggunaan bahasa yang meniru & berulang-ulang.
d.      Tidak adanya permainan peniruan sosial (missal: main ayah-ibu) sesuai dengan umurnya.
3.      Adanya peniruan/pengulangan perilaku, ketertarikan, dan aktivitas yang dimanifestasikan dalam salah satu hal berikut :
a.       Mencakup perilaku terbatas yang berulang-ulang dengan intensitas yang abnormal.
b.      Inflexible terhadap hal rutin/ritual yang spesifik&tidak berguna.
c.       Kesukaan pada bagian tertentu dari sebuah objek.
4.      Keterlambatan/abnormalitas pada minimal salah satu dari hal-hal dibawah ini, yang terjadi sebelum umur 3 tahun:
a.       Interaksi sosial
b.      Penggunaan bahasa dalam komunikasi sosial.
c.       Permainan simbolik atau imaginative.

Perbedaan Emosi Etnis Batak dan Sunda


Emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik. Emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Jenis emosi yang secara normal dialami antara lain: cinta, gembira, marah, takut, cemas, sedih dan sebagainya.
Aspek emosional dari suatu perilaku, pada umumnya, selalu melibatkan tiga variable, yaitu : rangsangan yang menimbulkan emosi (the stimulus variable), perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi bila mengalami emosi (the organismic variable), dan pola sambutan ekspresi atas terjadinya pengalaman emosional itu (the response variable). Yang mingkin dapat diubah dan dipengaruhi atau diperbaiki (oleh para pendidik atau guru) adalah variabelpertama dan ketiga (the stimulus-response variable), sedangkan variable kedua tidak mungkin di perbaiki karena merupakan proses fisiologis yangterjadi pada organisme secara mekanis.
Setiap kebudayaan memiliki stereotip emosi yang berbeda-beda dan cara yang berbeda-beda pula dalam menanggapi emosi yang ditunjukkan orang lain kepadanya. Kebudayaan menentukan perilaku individu, selain berpotensi untuk menggerakkan dan mendorong perilaku individu yang hidup di dalamnya, kebudayaan dapat mengekang atau menahan individu untuk berperilaku tertentu (Harahap dan Siahaan, 1987). Pemantapan perilaku tersebut dapat terlaksana dengan baik melalui proses enkulturasi bahasa, sistem kekerabatan, kepercayaan, upacara ritual, dan nilai-nilai dalam keluarga maupun masyarakat (Purba, 2004).
Terdapat begitu banyak kebudayaan dan etnis di Indonesia, tentunya banyak pula perbedaan stereotip emosinya. Budaya yang berbeda menghasilkan konsep diri yang berbeda pada anggota-anggotanya yang kemudian mempengaruhi semua aspek-aspek lain dari perilaku individu (Matsumoto dan Juang, 2004). Matsumoto dan Juang (2004) juga menambahkan bahwa kekhasan suatu budaya dapat dilihat dari proses marah yang terjadi pada masyarakatnya karena setiap budaya memiliki nilai-nilai budaya dan aturan yang khas tentang cara individu dalam budaya tersebut menghayati suatu stimulus yang memicu munculnya kemarahan, dan cara mengekspresikan kemarahannya.
Pada kesempatan ini penulis akan mencoba menjabarkan tentang dua stereotip emosi dari dua etnis di Indonesia, yaitu etnis batak dan etnis sunda. Tentunya akan timbul pertanyaan dari kita semua, mengapa penulis menjabarkan emosi yang terdapat pada etnis batak dan etnis sunda? Mengapa tidak membahas emosi dari etnis lainnya? Berikut akan coba dijelaskan oleh penulis sambil melihat keunikan emosi kedua etnis tersebut.

                     I.        Etnis Batak
Etnis batak merupakan etnis yang banyak bermukim di Provinsi Sumatera Utara, meskipun penyebarannya sudah hampir merata di seluruh Indonesia. Ada satu keunikan yang dimiliki oleh etnis batak yaitu terkenal tempramental dan selalu bernada suara tinggi jika bersuara. Bahkan kebanyakan masyarakat Indonesia dari etnis lain berpikiran kalau etnis batak merupakan orang yang keras dan cenderung kasar. Namun sebenarnya tidak seperti itu, cuma karena nada bicara yang tinggi saja sehingga orang berpikiran demikian.
Konsep dasar kebudayaan Batak adalah Dalihan Na Tolu yang artinya tiga tiang tungku atau tiga status sosial. Ketiga status sosial tersebut adalah Hula-hula (pihak keluarga ibu atau pemberi istri), Boru (keluarga saudara perempuan atau penerima istri), dan Dongan Tubu (anggota keluarga yang berasal dari satu keturun atau teman semarga). Falsafah hidup suku bangsa Batak Toba yang berlandaskan Dalihan Na Tolu ini mencakup “Somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu” yaitu hormat pada Hula-hula, ramah dengan melakukan pendekatan/membujuk Boru, dan berhati-hati dalam menjaga hubungan baik dengan teman semarga. (Harahap dan Siahaan, 1987; Simanjuntak, 2000).
Dalam Dalihan Na Tolu juga terdapat suatu kemandirian menghasilkan potensi konflik yang tinggi berupa keinginan untuk bersaing dan lebih lanjut menghasilkan pula rasa iri dan dengki yang dalam. Perasaan tersebut dalam bahasa Batak Toba dikenal dengan hosom (dendam), elat (dengki, iri), late (dengki, iri) dan teal (sombong) (Harahap dan Siahaan, 1987). Irmawati (2007) menjelaskan bahwa perasaan tersebut juga membuat suku bangsa Batak Toba sulit menyatakan dirinya telah gagal. Sehingga merekapun sulit untuk menyerah begitu saja.
DR. Plasthon Simanjuntak menyatakan bahwa tingginya emosi (emosional) yang ditemukan pada suku bangsa Batak Toba tidak lepas dari budayanya yaitu terbuka dalam segala hal. Hal ini terungkap dalam pribahasa Batak Toba yang berbunyi: “Si boru puasi, si boru bakkara. I si puas i si soada mara”, artinya bila sudah terbuka persoalan maka disitu ada jalan keluarnya. Disini dapat kita lihat bagaimana orang dari etnis batak merupakan orang yang tegas dan pantang untuk menyerah sehingga wajarlah rasanya kalau merekan dianggap orang yang keras dari segi emosi.

                    II.        Etnis Sunda
Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat. Suku Sunda merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia, setelah etnis Jawa. Sekurang-kurangnya 15,41% penduduk Indonesia merupakan orang Sunda. Mayoritas orang Sunda beragama Islam. Namun dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak masyarakat yang mempercayai kekuatan-kekuatan supranatural, yang berasal dari kebudayaan animisme dan Hindu. Kepercayaan tradisional Sunda Wiwitan masih bertahan di beberapa komunitas pedesaan suku Sunda, seperti di Kuningan dan masyarakat suku Baduy di Lebak yang berkerabat dekat dan dapat dikategorikan sebagai suku Sunda.
Jati diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, dan riang, akan tetapi mereka dapat bersifat pemalu dan terlalu perasa secara emosional dan terkesan agak sedikti manut kepada orang lain. Karakter orang Sunda seringkali ditampilkan melalui tokoh populer dalam kebudayaan Sunda; Kabayan dan Cepot. Mereka bersifat riang, suka bercanda, dan banyak akal, tetapi seringkali nakal.
Jika menilik kedua etnis diatas, tentunya akan menjadi menarik ketika membahasnya lebih mendalam. Suku batak yang terkenal memiliki suara yang bernada tinggi dan tidak mau kalah tentunya memiliki perbedaan yang unik dengan etnis sunda yang ramah, sopan, tetapi agak pemalu dan perasa secara emosional. Karena itulah penulis tertarik untuk mencoba meninjau perbedaan dan kesaan emosi yang ada pada kedua  etnis terbesar di Indonesia tersebut.

Daftar perpus:
Atkinson, Rita. L,Atkinson, Richard. C dan Hilgard, Ernest. R. 1983. Pengantar Psikologi (terj). Jakarta : Erlangga.

http://www.repository.usu.ac.id/ (online)

http://www.Silaban.net (online)

http://www.zeinhein.blogspot.com/

Wednesday, March 24, 2010

PERILAKU PRO SOSIAL & PERILAKU ANTI SOSIAL


A.    Pro Sosial atau Altruism
Sikap prososial atau altruisme merupakan sikap keikhlasan untuk menolong atau membantu orang lain, yakni perilaku yang cenderung memberi kontribusi baik fisik maupun psikis yang memberikan kebaikan atau kesejahteraan kepada orang lain (Wispe, 1972 dalam Brigham,1991).
 
Perilaku prososial menurut William (1981) adalah tingkah laku seseorang yang bermaksud merubah keadaan psikis atau fisik penerima sedemikian rupa, sehingga si penolong akan merasa bahwa si penerima menjadi lebih sejahtera atau puas secara material ataupun psikologis.
 
Altruisme sering dimotivasi secara egois. Walau bagaimanapun, orang-orang terkadang secara keseluruhan altruistic dan tidak sedikitpun egois. Batson (1995) mengungkapkan kita terkadang menolong orang lain karena merasa empati, yang berarti kita merasakan rasa sakit, penderitaan atau emosi lainnya yang orang lain rasakan. Artinya kita cenderung menolong orang apabila kita pernah mengalami beberapa perasaan yang mereka rasakan.
 
Disebutkan diatas altruisme termotivasi secara egois. Maksudnya, kita akan menolong seseorang karena adanya dua alasan. 
(1) kita ingin menghindari rasa sakit melihat orang lain menderita atau juga perasaan bersalah tidak membantu orang lain yang kesulitan dan 
(2) kita ingin berbagi kebahagiaan yang seseorang rasakan saat kehidupannya berubah atau berkembang. 

Dapat disadari bahwa antara keduanya merupakan perbedaan jenis egois. Yang pertama, menghindari perasaan sakit pribadi dan yang kedua mencari kesenangan pribadi. Mengingat pentingnya sikap prososial dalam menciptakan kebahagiaan dan kesehatan secara psikologis, maka hal itu perlu diajarkan sejak dini. Banyak perilaku sosial dipelajari oleh anak dari orang tuanya. Sosialisasi menunjukkan proses pembentukan perilaku soial seseorang untuk memenuhi harapan budaya dimana dia tinggal. Beberapa nilai mengajarkan pada masa kanak-kanak melibatkan perilaku prososial. 

Orang tua tentu saja merupakan faktor yang paling menentukan dalam proses sosialisasi melalui social power mereka (pemberian hadiah, paksaan, legetimasi dan kepakaran), kemampuan mereka dalam mengajar anak-anak mereka akan arti perilaku dan status mereka sebagai model. Sekolah juga menampilkan peran yang vital dalam pembentukan perilaku prososial. 

Beberapa strategi yang bisa dipakai guru untuk meningkatkan perilaku prososial murid (Santrock;2008, Honig & Wittmer, 1996; Wittmer & Honig, 1994); a. Hargai dan tekankan konsiderasi kebutuhan orang lain. 
b. Jadilah contoh perilaku prososial 
c. Beri label dan identifikasi perilaku prososial dan antisosial d. Nisbahkan perilaku positif untuk setiap murid e. Perhatikan dan dorong perilaku secara sosial secara positif tetapi jangan terlalu banyak menggunakan ganjaran eksternal. 
f. Bantu anak untuk mengambil sikap dan memahami perasaan orang lain 
g. Gunakan strategi disiplin yang positif. 
h. Pimpin diskusi tentang interaksi prososial 
i. Kembangkan proyek kelas dan sekolah yang bisa meningkatkan altruisme.

2.    Anti Sosial, Asosial, Introvert
Anti Sosial Seseorang yang antisosial menunjukkan ketidakacuhan, ketidakpedulian, dan/atau permusuhan yang seronok kepada orang lain, terutama yang berkaitan dengan norma sosial dan budaya. Orang yang antisosial biasanya blak-blakan dan tidak memedulikan hak dan perasaan orang lain.
Istilah antisosial secara formal disebut Penyimpangan Kepribadian yang Antisosial(Antisocial Personality Disorder). Orang dengan penyimpangan ini, kebanyakan laki-laki, memiliki luas emosi yang terbatas, rasa empatinya sedikit, dan biasanya merasa kosong atau hampa.
 
Ciri ciri gangguan kepribadian Anti Sosial meliputi :
* Berumur paling sedikit 18 tahun dan telah menunjukkan pola ketidakpedulian yang sangat kuat dan pelanggaran hak hak orang lain sejak umur 15 tahun.
* Tidak mematuhi norma norma sosial, terbukti dari tindakan tindakan melanggar hukum yang dilakukannya
* Suka memperdayai orang lain, termasuk berbohong, menggunakan nama nama alias atau menipu orang lain untuk memperoleh keuntungan atau kesenangan
* Sesuka hati atau tidak mampu membuat rencana ke depan
* Mudah marah atau bersifat agresif seperti ditunjukkan oleh seringnya berkelahi atau melakukan penyerangan
* Tidak peduli pada keselamatan orang lain
* Secara konsisten tidak bertanggung jawab dalam pekerjaan atau dalam membayar tagihan
* Tidak menyesal karena telah menyakiti orang lain
* Ada tanda tanda gangguan tingkah laku yang muncul sebelum umur 15 tahun
* Tidak muncul secara eksklusif selama perkembangan skizofrenia atau selama episode manik.



Saturday, March 13, 2010

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN

Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik,dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. 

Tampaknya terdapat kesepakatandi kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu . Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah :

1. Kecakapan dan keterampilan seorang anak.
Seorang anak yang cakap dan terampil akan lebih mudah dalam mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Contohnya: seorang anak yang pandai bergaul, akan lebih mudah dalam bersosialisasi dengan lingkungannya.
 
2. Harga diri.
Seorang anak yang dapat menghargai dirinya sendiri dengan baik tidak akan mengalami kesulitan dalam menghadapi
berbagai hal yang dihadapinya. 

3. Persepsi seseorang anak mengenai diri sendiri.
Pandangan seorang anak terhadap dirinya dapat mempengaruhi dalam perkembangan konatifnya. Seorang anak yang memandang dirinya buruk akan lebih sulit dalam mengembangkan potensi dalam dirinya.
Contoh: seorang anak yang kurang percaya diri akan merasa malu untuk menunjukkan kemampuannya.

4. Keinginan.
Anak yang memiliki keinginan dipastikan memiliki motivasi yang tinggi untuk meraih keinginannya.
 
Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah : 
1. Adanya orang terdekat yang dapat dipercaya.
Dengan adanya orang-orang yang mempunyai hubungan erat/dekat dan orang tersebut dapat memberikan kepercayaan
sehingga melalui orang-orang terdekatnya itu perkembangan konatif anak dapat meningkat karena adanya dorongan
dari orang-orang yang tersayang. Contohnya: sahabat, orang tua, kakak, dan adik.

2. Cara orang tua mendidik dan membina anak.
Orang tua yang mendidik anak dengan cara bertahap dalam menjelaskan sesuatu hal, dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, biasanya anak-anak mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan mereka akan mudah dalam mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Contohnya: orang tua mengajarkan tentang kepercayaan diri kepada seorang anak disertai dengan memberikan dorongan kepada anak.

3. Jenis dan sifat pergaulan.
Pergaulan seorang anak dalam lingkungannya akan berpengaruh terhadap motivasi yang dimunculkan dalam dirinya.

4. Kelompok bermain dimana seseorang anak bergabung.
Kelompok bermain yang diikuti oleh seorang anak berpengaruh dalam pengembangan potensi seorang anak.

Saturday, March 6, 2010

PENGUKURAN GANGGUAN PRILAKU

Berikut adalah langkah-langkah yang di tempuh seorang psikolog dalam mengukur gangguan perilaku yang di hadapi klien-klien yang mereka hadapi. Seorang psikolog tidak bisa memfonis seseorang mengalami gannguan perilaku hanya dengan melihat atau memeriaksa begitu saja, tapi harus dengan prses dan cara sebagai berikut :

1.    Wawancara Klinis yang Terstruktur dan Tak terstruktur
Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur, tak terstruktur, atau gabungan dari keduanya. Dalam wawancara secara terstruktur, pewancara dengan teliti mengikuti pertanyaan yang telah disiaplan dan jarang menyimpang dari rangkaian pertanyaan yang terstruktur. Kelebihan dari wawancara terstruktur adalah ahli klinis dapat mendapatkan sejumlah besar informasi dalam waktu yang singkat.

Berbeda dengan wawancara tak terstruktur, wawancara tak terstruktur tidak memakai beberapa pertanyaan khusus yang disiapkan dan memungkinkan pewawancara untuk mengarahkan klien. Kelebihan dari wawancara tak terstruktur adalah lebih terfokus pada masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Tapi, wawancara tak terstruktur memiliki dua kekurangan, yaitu ahli klinis lupa menanyakan pertanyaan yang penting, dan ahli klinis tidak bisa mendapatkan data yang sebanding dari wawancara pertama ke wawancara selanjutnya.
Dalam membuat diagnosis, ahli klinis harus sensitif tidak hanya pada apa yang dikatakan klien dan bagaimana klien berkata, tetapi bagaimana hubungan klien dengan ahli klinis dapat mempengaruhi isi dari wawancara sendiri. Pewawancara dapat meneliti diagnosis tanpa harus menjelaskan kenapa klien memiliki masalah yang sedang mereka alami. Klien mengulanginya pada pewawancara yang berbeda, dan ahli klinis harusnya sadar bahwa umur, jenis kelamin, suku, cara berpikir, dan bahkan cara berpakaian dapat mempengaruhi hasil dari wawancara secara klinis. Tetapi ahli klinis harus sadar bahwa banyak budaya yang berbeda.

2.    Tes Psikologi
Beberapa ahli klinis menggunakan tes psikologi. Mereka yang menggunakannya harus bersumpah, dimana hampir semua ahli klinis yang tidak menggunakannya harus percaya bahwa tes tersebut tidak memberikan kegunaan informasi psikodiagnostik. Tes psikologis ini adalah tes kepribadian. Tes kepribadian itu bisa bersifat projektif atau bisa juga bersifat objektif. Selain itu, bisa juga menggunakan tes inteligensi untuk mengukur gangguan kognitif dan untuk meneliti pendekatan individu dalam menyelesaikan masalah. Tes neuropsikologis dan psikologis digunakan juga dalam rumusan diagnosis yang dapat digunakan dalam pengobatan dasar.

3.    Pengukuran Berdasarkan Aspek Biologis 
Pengukuran fungsi otak terdiri atas pengukuran fungsi refleks dan fungsi sensori. Misalkan dengan melakukan knee-jerk reflex (refleks lutut).
Pengukuran berdasarkan biologis mengindikasikan bahwa denyut jantung, tensi, aliran darah ke berbagai bagian tubuh, galvanic skin response (GSR), secara potensial menimbulkan serangkaian rekaman electroencephalograph yang meminimalisir interferensi secara elektrik, CAT (computerized axial tomography) dan PET (positron emission tomography) penelitian, dan pengukuran lain untuk menilai fungsi biologis. Petunjuk ini tidak secara umum digunakan dalam penilaian klinis. Ahli klinis telah menemukan bahwa PET meneliti orang dalam gangguan bipolar yang menunjukkan level yang lebih tinggi dalam metabolisme glukosa dalam cerebrum selama fase manic (ketika pasien hiperaktif, ekspansif, dan tak tahu malu) daripada selama fase depresif (ketika psien relatif tidak aktif dan merasa rendah).

4.    Observasi
Observasi adalah suatu aktivitas mengamati tingkah laku individu. Biasanya diakhiri dengan mencatat hal-hal yang dianggap penting sebagai penunjang informasi mengenai individu. Informasi yang diperoleh melalui observasi adalah informasi situasi sekarang.

Dalam mencatat data dapat menggunakan peralatan mekanik atau elektronik, seperti misalnya audiotape/videotape. Observer mencatat apakah tingkah laku pasien mental tampak aneh, kaku, rawan, atau apakah cara bicaranya lambat dan sebagainya. Observasi hampir seluruhnya tergabtung pada persepsi dan penilaian manusia, sehingga membuka kemungkinan untuk menjadi bias dan tidak tepat.

Saturday, February 27, 2010

PSIKOTERAPI



    Psikoterapi adalah sebuah intervensi yang diberikan oleh seorang profesional dengan menggunakan prinsip-prinsip psikologi yang mencoba untuk mengobati gangguan mental dan untuk meningkatkan kehidupan seseorang yang bahagia atau terganggu. Dalam psikoterapi terdiri atas beberapa metode yang digunakan untuk mengobati perilaku abnormal. Sebagian metode tersebut difokuskan untuk membantu individu dalam mendapatkan suatu pemahamannya tentang penyebab masalah.
    Psikoterapi kurang begitu populer di Indonesia karena tidak semua orang mengerti akan pentingnya psikoterapi. Hanya orang yang berasal dari ekonomi menengah ke atas saja yang menggunakannya.
    Psikoterapi dapat diberikan oleh dokter psikiatrik atau psikiater, yabg memiliki gelar M.D (di Amerika). Istilah ahli psikoanalisis ditujukan untuk individu yang telah mendapatkan latihan khusus di institut psikoanalitik dengan mempelajari metode dan teori Freud. Ahli Psikologi yang bekerja sebagai ahli psikoterapi biasanya mendapatkan gelar Ph.D. (doctor of Philosophy) atau Psy.D. (doctor of Psychology). Pekerja sosial psikiatrik harus menyelesaikan pendidikan 2 tahun untuk mendapatkan gelar master (M.S.W).

Sejarah Singkat Psikoterapi

Pada zaman dahulu kala, dipercaya bahwa perilaku abnormal disebabkan oleh setan. Setan tersebut diusir dengan teknik tertentu seperti doa, mantera, sihir, dan teknik lainnya. Jika terapi tersebut tidak berhasil, diambil tindakan yang lebih ekstrim. Misalnya denagn merajam hingga mati.
    Selama abad 15 sampai 16, gangguan mental itu dipandang sebagai penyakit. Maka penderita gangguan mental dimasukkan ke dalam rumah sakit khusus untuk penderita gangguan mental yang disebut asilum. Asilum seperti penjara untuk para penghuninya, mereka dirantai di sel yang gelap dan kotor. Tetapi pada saat Philipe Pinel (1745-1826) yang bertugas, terjadi perkembangan. Pinel memperbolehkan melepas rantai yang mengikat para penderita. Eksperimennya berhasil. Setelah dilepaskan dari ikatannya, ditempatkan di ruang yang bersih dan terang, banyak orang yang selama bertahun-tahun dianggap tidak berharapan sembuh ternyata mengalami kemajuan yang besar.   
     Akhir abad 18 dan awal abad 19, ahli kllinis berusaha untuk merawat gangguan mental berdasarkan psikologi. Contohnya, Josef Breuer (1842-1925), seorang dokter dari Viennese yang merawat pasien yang histeria dengan menggunakan metode hipnotis.

Saturday, February 20, 2010

Aliran Psikologi

A. Psikoanalis

Aliran psikoanalis secara tegas memperhatikan struktur jiwa manusia, pendiri aliran ini adalah Sigmund Freud. Fokus aliran ini adalah totalitas kepribadian manusia bukan pada bagian-bagiannya yang terpisah.

Menurut aliran ini, perilaku manusia dianggap sebagai hasil interaksi sub sistem dalam kepribadian manusia yaitu:
a. Id, yaitu bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia merupakan pusat insting yang bergerak berdasarkan prinsip kesenangan dan cenderung memenuhi kebutuhannya .Bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id adalah tabiat hewani yang terdiri dari dua bagian:
b. Ego, berfungsi menjembatani tuntutan Id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional, realistik dan keasadaran. Egolah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewaninya dan hidup sebgai wujud rasional. Ia bergerak berdasarkan prinsip realitas
c. Super ego, yaitu unsur yang menjadi polisi kepribadian, mewakili sesuatu yang normatif atau ideal super ego disebut juga sebgai hati nurani,merupakan internalisasi dari norma-norma sosial dan kultur masyarakat. Super ego memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tidak berlainan dibawah alam sadar.

B. Behaviorisme
Aliran behaviorisme lahir sebagai reaksi aliran instropeksionisme ( menganalisa jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif ) dan juga aliran psikoanalisis (berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme hanya menganalisa perilaku yang nampak saja yang dapat diukur dilukiskan dan diramalkan Teori dari aliran ini dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar.

1. Teori pelaziman klasik
Pada awal tahun 1900an, seorang ahli fisiologi Rusia bernama Ivan Pavlov menjalankan satu siri percobaan secara sistematik dan saintifik dengan tujuan mengkaji bagaimana pembelajaran berlaku pada sesuatu organisme. Pavlov mengasaskan kajiannya pada 'hukum perkaitan' (Law of Association) yang di utarakan oleh ahli falsafah Yunani awal seperti Aristotle. Menurut pendapat ini, sesuatu organisme akan teringat sesuatu karena sebelumnya telah mengalami sesuatu yang berkaitan. Contohnya, apabila melihat sebuah mobil mewah, mungkin kita membuat pengandaian si pengendara mobil adalah seorang kaya atau seorang terkemuka. Andaian ini bergantung kepada pengalaman kita yang lampau.

2. Teori pelaziman Operant
Perkataan 'operan' diciptakan oleh Skinner yang berarti apabila organisme menghasilkan sesuatu respon karena mengoper atas stimulus yang diterima disekitarnya.

3. Teori Social Learning Theori
Pembelajaran Sosial menyatakan bahawa seorang individu meniru tingkahlaku (imitation) yang diterima masyarakat (socially accepted behaviour) dan juga tingkah laku yang tidak diterima masyarakat

C. Psikologi Kognitif
Aliran ini lahir pada awal tahun 70-an ketika psikologi sosial berkembang ke arah paradigma baru manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk pasif yang digerakkan oleh lingkungannya tetapi makhluk yang paham dan berpikir tentang lingkungannya (homo sapiens). Aliran ini memunculkan teori rasionalitas dan mengembalikan unsur jiwa ke dalam kesatuan dalam diri manusia .asumsi yang digunakan adalah manusia bersifat aktif yang menafsirkan stimuli secara tidak otomatis bahkan mendistorsi lingkungan.

D. Psikologi Humanistik
Lahir sebagai revolusi ketiga atau dikatakan sebagai mazhab ketiga psikologi. Psikologi humanistik melengkapi aspek-aspek dasar dari aliran psikoanalisis dan behaviorisme dengan memasukan aspek positif yang menentukan seperti cinta , kreativitas , nilai makna dan pertumbuhan pribadi. Psikologi Humanistik banyak mengambil penganut Psikoanalisis Neofreudian. Asumsi dasar aliran ini yang membedakan dengan aliran lain adalah perhatian pada makna kehidupan bahwa manusia bukanlah sekedar pelakon tetapi pencari makna kehidupan
Selanjutnya konsep yang menjadikan teori aliran psikologi humanistik tiada duanya adalah konsep dari tokoh aliran ini yaitu Abraham Maslow yang menyatakan “studi tentang orang-orang yang mengaktualisasikan dirinya mutlak menjadi fondasi bagi sebuah ilmu psokologis yang lebih semesta( Frank Goble)
Krtik-kritik dari psikologis humanistik menunjukan perbedaaan dan asumsi yang berbeda dengan aliran –aliran lain:
1. Psokologi humanistik tidak mengagungkan metode statistik dan serba rata-rata tetapi melihat pada yang mungkin dan harus ada.
2. Psikologis humanistik tidak berlebihan melakukan penelitian eksperimen pada binatang tetapi pada kodrat manusia beserta sifat-sifat manusia yang positif.